Impor Garam : Lebih Jauh Melihat Produksi dan Kebutuhan Garam di Negeri Ini

TufiddinBlog – Dianugerahi kekayaan alam sejauh mata memandang merupakan berkah bagi Indonesia, jika berhasil memanfaatkannya dengan baik. Luasnya lautan, terhamparnya daratan, seakan membuat penduduk Indonesia dilenakan. Sehingga kecolongan ketika penduduk “tiba-tiba” mencapai seperempat milyar jiwa pada tahun 2016 lalu. Semakin banyak manusia yang harus dihidupi, maka semakin banyak pula kebutuhan pangan yang harus tersedia di negeri ini. Indeks Ketahanan Pangan (Global Food Security Index/GFSI) Indonesia 2016 berada di tingkat 71 dari 113 negara dengan skor  50,6. Naik dari tahun sebelumnya sebesar 47,9. Meskipun meningkat, ketahanan pangan Indonesia masih berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Pertengahan tahun 2017, impor garam ramai dibicarakan warganet dan masyarakat umum. Banyak media saling berlomba menghadirkan info terbaru terkait impor garam.

Mendengar kata “garam”, banyak masyarakat awam yang hanya menafsirkannya sebagai penyebab rasa asin yang ada pada makanan. Padahal, impor garam tidak melulu garam sebagai campuran masakan. Kebutuhan konsumsi garam terdiri dari empat kelompok : 1) garam konsumsi rumah tangga dan industri aneka pangan, 2) perminyakan, 3) industri tekstil dan kulit, 4) industri Chlor Alkali Plant dan industri farmasi. Garam yang diimpor juga merupakan garam bahan baku industri. Garam industri harus mengandung natrium klorida dengan kadar 97,4% ke atas. Garam industri digunakan berbagai macam jenis usaha : tekstil, pengolahan makanan, pengeboran minyak, penyamakan kulit dsb. Produk yang dihasilkan oleh industri berbahan baku garam contohnya Hidrogen, Klorin, dan Soda Kaustik (NaOH). Garam dapur umumnya ditujukan untuk konsumsi masyarakat dan sudah diberi tambahan yodium.

2/3 wilayah lautan Indonesia menyimpan potensi untuk menghasilkan garam. Iklim kemarau selama 6 bulan juga mendukung produksi garam. Menurut Kementrian Perikanan dan Kelautan, tahun 2011 luas lahan garam mencapai 25.064 Ha, tersebar di sembilan propinsi : NAD, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Produksi nasional yang dihasilkan diprediksi mencapai 1,1 juta ton (2011). Data dari Kementrian Perindustrian dan World Bank tahun 2012 menunjukkan secara bertahap dari tahun 2007 hingga 2011 terjadi peningkatan kebutuhan garam nasional dari angka 2,7 juta ton menjadi 3,4 juta ton. Ketidakseimbangan produksi dan konsumsi inilah yang mengharuskan pemerintah melakukan tindakan impor garam.

Faktor penentu produksi garam nasional terkait dengan empat faktor utama : air laut, lahan, kondisi iklim, dan sumber daya manusia. Air laut disyaratkan mengandung garam dengan kadar tinggi, tidak tercampur aliran muara sungai tawar, serta mudah masuk ke dalam areal garam. Lahan yang baik memiliki topografi landai dan tanahnya punya tingkat permeabilitas rendah. Iklim yang baik berupa curah hujan yang sedikit, penyinaran matahari dan penguapan yang cukup. Sumber daya manusia masih dibutuhkan karena belum meratanya mekanisasi dalam pembuatan garam. Produksi garam nasional dilakukan oleh rakyat (produksi garam rakyat), dengan cara menguapkan air laut pada sebidang tanah pantai dengan bantuan angin dan sinar matahari. Dilanjutkan dengan proses pemisahan antara pasir dan garam. Garam juga dihasilkan oleh PT Garam, dengan lahan yang dibuat blok / petakan.

Kebutuhan garam konsumsi sekitar 0,8 juta ton pertahun. Sedangkan garam industri sebanyak 1,9-2 juta ton/ tahun. Kebutuhan garam konsumsi tidak bisa dicukupi hanya dengan produksi nasional saja, karena garam produksi nasional masih perlu diolah lebih lanjut agar bisa dikonsumsi (misalnya penambahan yodium).

The Verdict

Kebutuhan yang amat besar disebabkan oleh berkembangnya industri sejalan dengan perbaikan ekonomi dan pertambahan penduduk. Masalah-masalah yang ada di negara ini hanya bisa diatasi dengan perbaikan pendidikan seluruh masyarakat terlebih generasi mudanya, agar mengetahui akar dari sebuah masalah dan menentukan formula yang tepat untuk merampungkannya.

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: