iPhone 6 dan 6s Yang (masih) Jadi Primadona

Seri iPhone 6 dan 6s sudah ketinggalan 2 tahun lebih. Toh sekarang iPhone sudah mencapai seri X. Seharusnya ia sudah mulai ditinggalkan, tapi nyatanya masih banyak yang mencarinya.

Karena harganya bersaing. Di angka 2.5 juta hingga 4 jutaan. Berstatus barang bekas. Kalau bisa dapat yang mulus, berarti Anda beruntung.

Saya sering memantau harga2 hape lewat grup facebook. iPhone 6 dan 6s ini banyak betul peminatnya. Bahkan produk “ex inter”nya pun cukup banyak yang mencari. Maklum, harganya lebih murah. Dengan kelengkapan aksesoris yang biasanya bukan original Apple.

Dilihat lihat lagi, desain iPhone 6 series ini menurut saya cakep. Tidak menua ditinggal zaman. Masih sedap dipandang, cantik. Pun ketika memegangnya, solid khas produk Apple.

Dipakai juga masih lancar, ia dapat mengoperasikan iOS 11. Padahal sudah ketinggalan berapa tahun. Beda dengan ponsel Android pada umumnya. Yang tidak dapat updatean terbaru, kecuali kelas flagship. Galaxy S series misalnya.

Selain itu, harga iPhone 7 dan 8, yang bekas sekalipun masih tinggi. Di atas 4 juta. Sudah melewati angka psikologis yang mau dikeluarkan oleh kelas menengah pada umumnya.

Sekedar informasi, iPhone 6 masih dijual di erafone. Varian 32 GB warna gold. Harganya 4 juta kurang seribu rupiah. Pandai betul mereka, melihat peluang. Tetap menjual iPhone 6, dalam keadaan baru. Karena banyak juga orang yang khawatir membeli iPhone bekas, takut salah pilih.

Hebatnya Apple, produk mereka dibuat dengan solid dan mudah dioperasikan. Spesifikasi di atas kertas biasa-biasa saja dibanding Android pada umumnya. Namun performa iPhone, jangan ditanya. Cobalah sendiri. Lebih lancar dari Android.

Di rumah saya, ada beberapa hape dari brand lokal. Rasanya masih jauh, dan perlu waktu untuk bisa bersaing dengan brand raksasa sekelas Samsung, apalagi Apple.

Indonesia perlu belajar dari Tiongkok. Yang sekarang ekonominya bertumbuh. Brand ponsel mereka membanjiri pasar dunia. Ada Huawei, Oppo, Xiaomi, dan Vivo.

Nampaknya Asia akan jadi kekuatan ekonomi baru. Kita tunggu saja, apakah Indonesia akan jadi pemainnya. Atau sekedar menjadi pasar. Bagi produk-produk tetangga.

-tufiddin

Ditulis di akhir pekan, saat sedang tertarik kepada macroeconomics.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: