Produk Fashion, Kekhawatiran, dan Eksistensi Mall

Belanja tak lagi harus keluar rumah. Selama punya uang, terlebih punya akses internet banking, belanja jadi lebih mudah.

Memakai hape, download aplikasi marketplace, pilih barang ini itu, cek rating toko, cek testimoni, tambahkan ke daftar belanja, check out, bayar, beres.

Beberapa hari kemudian barang di antar di depan rumah. Atau hari itu juga dikirim dengan ojek online jika jarak seller dekat, masih satu kota yang sama.

Di marketplace ada banyak sekali pilihan barang. Semuanya terlihat menarik. Fotonya diambil dengan kamera bagus, dipilih angle yang paling menjual. Agar calon konsumen yakin lalu beli. Harapan sang seller, si buyer akan memberitahu pada temannya di mana ia membeli barangnya.

Produk fashion, terbilang sering dicari!

Fashion berkembang dinamis. Ganti model ini itu, menyesuaikan selera zaman. Cepat sekali. Ia hampir selalu menghiasi di halaman depan sebuah marketplace.

Dipatok dengan harga terjangkau, disertai promo yang fantastis. Beli satu set baju koko, gratis sarung misalnya. Padahal di toko offline juga dapat ditemui promo seperti itu. Namun di toko online, sekecil apapun promo, terlihat lebih menarik.

Beberapa kali saya membeli produk fashion seperti kaos, baju, jam tangan, dan tas. Keempatnya sama saja : tidak sesuai ekspektasi, tidak seperti di gambar. 80% mirip, sisanya warna yang tidak akurat, bahan tipis, dan jahitan tidak rapi.

Malah menimbulkan kesan, harga yang dibayar terlalu mahal jika dibandingkan kualitas barang.

Maka sejak pembelian keempat itu, saya tak mau lagi beli produk fashion secara online di marketplace.

Lebih baik beli secara offline. Bisa dicoba, dilihat warnanya, diraba bahannya. Sekalian jalan-jalan ke toko, atau ke mall. Apalagi makin banyak mall, di Daerah Istimewa yang angka ketimpangannya tinggi ini.

– Tufiddin

Satu pemikiran pada “Produk Fashion, Kekhawatiran, dan Eksistensi Mall”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: