Buah Pikir Duduk Sebentar di Ubin Masjid

P_20170109_125950.jpg
Langit-langit sebuah masjid di Kabupaten Bantul

Hati manusia mudah berbolak-balik. Pagi dalam keadaan sumringah, petang bisa tenggelam dalam amarah. Maka, keputusan yang dibuat saat hati tak tenang, ujungnya adalah penyesalan.

Di semester yang semakin tua, banyak hal yang harus dihapus. Dari dalam pikiran, terlebih yang sudah lama menetap di hati. Bukan apa-apa. Memikirkan tugas akhir studi perlu kesiapan pikiran dan juga menata hati. Agar tahan banting, apalagi saat ada revisi.

Di semester yang semakin tua, akan ketahuan siapa yang sebenarnya selalu ada. Dan siapa yang menuntut saya selalu ada, tapi hilang saat saya membutuhkan. Orang-orang seperti itu, akan saya nomor sekiankan.

Di semester yang semakin tua, setiap detik waktu semakin berharga. Dalam waktu 1 jam, mungkin ada mahasiswa lain yang sedang mengerjakan proposal penelitian, sedang berdiskusi ide untuk dilombakan, sedang berlatih untuk memenangkan kontes olah raga. Dalam waktu 1 jam, saya sudah bisa apa?

Di semester yang semakin tua, semakin besar konsekuensi atas setiap keputusan. Ini berkaitan dengan banyak hal, tentang mata kuliah yang akan diambil, apakah akan ikut exchange ke luar negeri tahun depan, ingin mencari tambahan uang atau tidak. Semester tua, semakin dewasa. Memilih layaknya orang dewasa. Juga menerima risiko di dalamnya.

Banyak pihak yang sudah mengambil harta berharga yang saya miliki : waktu. Disibukkan oleh hal yang sama, dengan kesalahan yang sama, dengan pola pikir yang sama. Bersuara, tapi tidak di dengar. Berlama-lama di situ, buat apa?

Di semester 5 ini, saya merasa seperti ikan besar di kolam kecil. Rasanya ingin mencari kolam yang lebih besar atau ke laut sekalian, bertemu ikan-ikan besar lainnya, berpetualang. Sekaligus menjauhkan diri dari omongan ikan-ikan kecil yang hidup bersama saya. Yang sering kali mengeluh, sekecil apapun laku saya.

Kemudian saya teringat, sayup-sayup pengajian beberapa tahun lalu, membersamai hujan di bulan Oktober. Pak Ustadz yang sudah sepuh itu menerangkan, Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. Apa yang tidak menjadi takdirNya, maka tidak akan terjadi. Sehebat apapun merencanakan.

Maka, mulai sejak sekarang. Saya berhenti membuat rencana-rencana yang banyak gagalnya itu, apalagi berharap orang lain akan melakukannya.

Tufiddin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: