Cara Memilih Smartphone Dengan Kamera Bagus

iphone-2618283_640.jpg

Untuk urusan fotografi, smartphone zaman now cukup bisa diandalkan. Apalagi jika hasil jepretan atau video hanya diupload ke sosial media. Tidak perlu bagus-bagus, toh bisa diedit. Aplikasinya banyak yang gratis, bisa diunduh kapan saja.

Perlu diingat, ada juga konsumen mencari smartphone yang kualitasnya mendekati kamera digital bahkan DSLR. Gambar tajam, terang di kondisi lowlight, minim noise, stabil. Apakah mungkin?

Lalu, hal apa saja yang bisa dijadikan panduan untuk memilih kamera yang bagus pada Smartphone?

1. Nilai Aperture (Bukaan Lensa)

Nilai aperture ini melambangkan bukaan lensa. Semakin besar bukaan lensa, akan semakin banyak cahaya yang masuk. Maka, idealnya hasil foto di tempat redup (kondisi lowlight) akan lebih terang. Dibanding bukaan lensa sempit.

Bukaan aperture dilambangkan dengan nilai F. Kamera dengan aperture F 1.7, akan lebih terang hasil fotonya dibanding dengan F 2.0. Berlaku sebaliknya. Semakin kecil nilai F, semakin banyak cahaya yang masuk.

Samsung Galaxy A6 milik saya punya aperture F 1.7, dan hasilnya cukup terang di malam hari. Di siang hari, cahaya yang masuk terlalu banyak. Sehingga gambar seringkali back light, harus menyalakan mode HDR agar gambar tetap terang. Atau cari sudut foto yang pas.

Apresiasi saya berikan pada Samsung Galaxy S9 yang punya dual aperture, sehingga di siang hari bisa menggunakan lensa yang lebih sempit bukaannya agar cahaya tetap seimbang. Dan di malam hari bisa menggunakan lensa yang lebih lebar bukaannya agar lebih terang.

galaxy-s9-camera_main_5.jpg

2. Optical Image Stabilization (OIS)

Pada umumnya, lensa kamera smartphone tidak dilengkapi dengan stabilizer. Terletak menyatu dengan sirkuit. Smartphone dengan OIS akan menghasilkan gambar yang lebih stabil, karena lensa juga ikut bergerak menyesuaikan guncangan yang didapat smartphone.

Selain itu, video pada kamera dengan OIS juga lebih stabil. Simak perbedaannya

OIS biasanya dijumpai pada seri flagship terbaru yang harganya relatif mahal. Seperti di iPhone series, Galaxy S series, Huawei P, Asus Zen 5 dll.

3. Electronic Image Stabilization

Fungsinya hampir sama dengan OIS. Hanya saja, lensa pada kamera EIS tidak bisa bergerak-gerak. Karena EIS hanyalah proses elektronik alias software. Hasilnya tentu tak se stabil OIS. Namun jauh lebih baik dibanding yang tak punya EIS dan OIS.

Biasanya EIS ada di smartphone kelas menengah. Yang pernah saya coba : Xiaomi Redmi Note 5 dan Galaxy A8.

4. Resolusi (MegaPixels) dan Ukuran Pixels

Megapixels adalah menyatakan berapa jumlah pixel yang dapat ditangkap. 1 megapixels berarti bisa menangkap kira kira 1 juta pixels. Lalu, apakah kamera dengan megapixel besar selalu lebih baik? Jawabnya tidak. Galaxy S6 punya kamera 16 MP, Galaxy S7 punya kamera hanya 12 MP. Namun hasil gambar Galaxy S7 sedikit lebih bagus, karena ukuran satu pixelnya lebih besar yakni 1.4µm dibanding Galaxy S6 sebesar 1.14µm.

Selain itu, megapixels juga menentukan ukuran file foto yang dihasilkan. Kalau boleh memilih, saya akan pilih megapixels yang lebih rendah namun ukuran pixelnya lebih besar. Karena lebih hemat memori untuk kualitas foto yang sama.

The Verdict

Sampai saat ini saya masih mengakui, dan akan merekomendasikan iPhone series, untuk perkara kamera. Karena hardware kameranya oke, dan optimalisasi iOS benar-benar bagus. Namun jika budget terbatas, bisa membeli smartphone dengan harga di bawahnya. Umunya Android di atas 4 jutaan sudah punya kamera yang bagus.

Supaya dapat hasil yang sesuai selera. Datanglah ke konter handphone agar bisa mencoba langsung, atau menonton video komparasi di YouTube, tentang smartphone yang Anda cari.

Tufiddin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: