Pertanian dan Revolusi Industri 4.0

Teknologi berkembang pesat. Menuju arah yang jauh, meninggalkan mereka yang terlambat menyadari.

Apapun alasannya, faktanya teknologi sudah berkembang pesat. Di berbagai sektor; industri, jasa, transportasi, dsb.

Ingin bepergian tinggal pesan lewat hape, membeli tiket bioskop lewat hape, berkomunikasi dengan orang di luar negeri pun bisa dilakukan dengan perangkat sebesar genggaman. Lebih canggihnya lagi, pada korporasi yang sudah besar hape bisa digunakan sebagai remote drone untuk mengamati lahan pertanian yang luas. Monitoring.

Pertanian adalah sebuah sektor, yang potensial untuk mengadopsi Industri 4.0

Menanam bisa dengan tangan manusia, namun akan lebih efisien dengan mesin tanam. Menanam lahan puluhan hektare dengan tangan? Bisa, namun butuh biaya lebih dan waktu yang lama. Juga tenaga.

Mencabut gulma bisa dengan tangan manusia, namun akan lebih efisien dengan herbisida. Siapa yang mau mencabut gulma pada lahan seluas puluhan hektare? Pun juga sudah dikembangkan, alat pencabut gulma, dengan robot. Iya, dengan robot. Di negara lain, hal itu sudah diujicobakan. Di negeri kita, belum banyak yang mengembangkan.

Memanen bisa dengan tangan manusia, namun akan lebih efisien dengan combine harvester. Kakek saya pernah mencobanya, menyewa mesin combine harvester. Memanen lahan padi seluas 2000an meter persegi. Membayar 450 ribu, sudah termasuk upah operator mesin. Dalam waktu dua jam lebih, gabah panen sudah termuat di dalam karung. Membayar orang untuk panen pun sebenarnya bisa. Hanya saja butuh lebih banyak pekerja, juga butuh waktu relatif lama. Apalagi kalau panen belum selesai saat adzan dhuhur berkumandang. Maka kakek harus menyediakan makan siang buat para pemanen. Opsi itu lebih hemat, daripada harus berbagi hasil panen, atau memberi tambahan upah.

Hasil gambar untuk drone penyemprot pestisida

Menyemprot pestisida bisa dengan tangan manusia, namun akan lebih efisien dengan mesin-mesin penyemprot yang sudah disiapkan jalurnya. Atau dengan ditumpangkan pada drone yang berlalu-lalang. Selain mengawasi pada lahan yang luas, melakukan remote sensing, mengetahui di titik mana serangan hama berada, drone juga bisa dikembangkan untuk menyemprot di pada titik awal serangan hama penyakit. Mencegah hama penyakit tersebar ke tanaman lain.

Banyak hal yang bisa dimekanisasi dalam sektor pertanian. Terlebih lahan yang ada, sudah disiapkan untuk mendukung hadirnya alat-alat itu. Di Indonesia, lahan luas. Secara akumulatif. Namun banyak yang terpencar-pencar. Disekat-sekat. Sawah petani kecil-kecil, alat harus bolak-balik dari satu lahan ke lahan lain. Beda cerita, jika lahan itu menjadi suatu kesatuan yang luas.

Manusia Tetap Dibutuhkan

Jelas. Kita sebagai manusia masih memiliki kuasa untuk menentukan peran. Jika tenaga manusia untuk menanam, memanen, merawat dsb telah digantikan mesin. Manusia masih punya peran untuk merencanakan kegiatan, mengembangkan varietas, merawat tanaman hias dll. Apapun, yang belum bisa dibuat mesinnya. Manusia masih diberi kesempatan untuk mengisi kegiatan yang membutuhkan keahlian. Spesifik.

Tak Melulu Sarjana Pertanian

Sudah banyak mahasiswa pertanian yang mengisi kursi-kursi perbankan. Maka jangan salahkan, sebentar lagi sarjana-sarjana teknik elektro, elektronika dan instrumentasi, ilmu komputer, juga ikut bekerja di sektor pertanian. Ikut mengembangkan mesin-mesin pertanian, dan juga robot-robot terkomputasi.

The Verdict

Bersiaplah, mau tidak mau. Cepat atau lambat, revolusi industri 4.0 ini akan mengubah cara pandang, diiringi perubahan cara kerja. Beradaptasilah, tingkatkan kompetensi, jika perut masih ingin terisi.

Tufiddin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: