Aksi Konkretku Mengurangi Sampah

Aksi Konkretku Mengurangi Sampah

Setiap hari ada 600-700 ton sampah yang dihasilkan di DIY, yang dibawa ke TPST Piyungan. Tak hanya sampah makanan. Juga meliputi sampah plastik. Yang akhir-akhir ini menjadi perhatian banyak aktivis dan warganet.

Apalagi sampah plastik yang sampai terbawa mengotori lautan, tersangkut di tubuh hewan-hewan laut. Banyak yang kemudian menggalakkan kampanye pengurangan penggunaan plastik. Sampai-sampai, di resto fastfood, aku kaget karena tidak disediakan sedotan / pipet. Sepertinya, manusia yang dikaruniai akal dan kuasa untuk mengelola alam ini, belum bisa mewujudkan lingkungan yang lestari.

Salah siapa? Tentu mudah untuk menyalahkan pihak lain. Menyalahkan orang lain. Menyalahkan turis yang membuang sampah sembarangan. Hei.. Jika menasihati dengan cara menyalahkan rasanya orang lain pun akan sulit menerimanya. Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Di keluarga kami, Ibu sudah bertahun-tahun mengajarkan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik  Beliau selalu membawa tas belanja ketika pergi ke supermarket. Ketika membeli ikan di pasar beliau sudah membawa Tupperware sebagai wadah. Belanja di minimarket tak perlu meminta kantong plastik, selagi masih bisa dibawa dengan tangan. Kebiasaan yang dijalani beliau secara perlahan aku jalani juga.

Aku berprinsip sebisa mungkin mengurangi sampah plastik. Ataupun kalau terpaksa menggunakan sesuatu yang dari plastik, harus kupastikan ia akan dikelola dengan baik. Bukan sekadar berpindah tangan lalu akhirnya sampai ke tempat pembuangan akhir. Apalagi di Jogja, TPST Piyungan sudah penuh.

Dalam penerapannya, pun aku masih belum bisa sepenuhnya lepas dari plastik. Misalnya ketika belanja kebutuhan yang tidak terencana, lalu tidak membawa kantong belanja, terpaksa menggunakan kantong plastik. Saat ke kampus pun aku belum rutin untuk membawa botol minum sendiri, alasannya karena botol Tupperware yang sering ketlingsut entah dimana, hahaha. Walhasil Ibu masih sering membeli air minum dalam kemasan untuk sangu anak-anaknya.

Di awal tahun 2017 lalu aku mengenal sebuah project pengelolaan sampah di daerah Condong Catur. Namanya Butik Daur Ulang – Project B Indonesia. Kegiatan mereka mengelola sampah plastik untuk dijadikan kerajinan yang bernilai ekonomi. Sampah plastik yang kita miliki bisa didonasikan secara gratis atau dihitung sebagai tabungan. Sampah plastik yang bisa didonasikan / ditabung contohnya kemasan minuman sachet, kemasan sabun cuci, kemasan makanan dll.

Maka sejak mengetahui hal itu di keluargaku sudah terbangun perilaku menyatukan sampah plastik yang kering (tidak ada cairan sisa makanan / minyak dll), untuk dikumpulkan dalam satu wadah. Ketika sudah cukup banyak terkumpul akan disetorkan ke kantor Butik Daur Ulang.

Selain sampah plastik. Butik Daur Ulang juga menerima minyak jelantah. Per liternya dihargai 1500 rupiah. Lumayan kan daripada dibuang ke wastafel, bisa menyebabkan salurannya mampet lhoh. Minyak jelantah biasanya kutampung di botol air mineral bekas.

Tak cukup sampai di situ. Kadang kala kita belanja lalu terpaksa menggunakan kantong plastik. Di rumahku plastik-plastik yang masih bagus, tidak bolong, tidak berbau. Akan disimpan untuk digunakan suatu saat nanti. Kami menyimpannya di loker khusus.Coba tengoklah!

Kantong Plastik

Sebisa mungkin kami sudah mengurangi penggunaan kantong plastik, tapi lihatlah plastiknya masih banyak kan?

Belum ada barang lain yang bisa diproduksi dengan mudah dan praktis digunakan seperti plastik. Maka dari itu plastik masih menjadi primadona. Harapanku, semoga semakin banyak bank sampah, ataupun unit usaha yang bergerak dalam pengelolaan sampah. Selain bisa menyelamatkan lingkungan, juga bisa menambah penghasilan. Kata seorang dosenku, di mana ada masalah yang belum selesai, di situlah ada potensi bisnis yang bisa dihidupkan.

Selain itu, pendidikan di Indonesia perlu untuk menekankan tentang kepedulian terhadap keseimbangan alam. Dan mengajari bagaimana cara hidup berdampingan dengan alam. Karena bumi ini tak hanya dicipta untuk manusia saja. Ada penyu yang ingin aman menitipkan telurnya di pasir pantai. Ada burung pelikan yang ingin mamangsa ikan tanpa khawatir tersangkut di kantong plastik. Ada paus yang ingin perutnya bebas dari sampah.

Bahaya plastik tak hanya akan menyerang hewan-hewan yang terdampak. Manusia pun berisiko menerima dampaknya. Bayangkan ketika plastik itu tertelan di tubuh ikan, lalu ikan tersebut terjaring dan diolah menjadi masakan di pinggir pantai, diolah menjadi ikan kaleng. Yang akan disantap manusia, tertelan di dalam perut lalu membahayakan tubuh.

Adlai Stevenson mengatakan lebih baik menyalakan lilin, daripada mengutuk kegelapan. Yuk, mari melakukan aksi walaupun kecil, daripada mengeluh tak berkesudahan. Aku yakin melakukan hal-hal sederhana yang kita bisa akan lebih mudah untuk dicontoh oleh orang lain, dibanding harus menyalahkan.


Kontak Instagram : Butik Daur Ulang

Alamat (via G-Maps) : Butik Daur Ulang 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: