Pemilu Legislatifnya Jangan Dilupakan

elections-2706859_960_720Rabu 17 April 2019 tinggal menghitung hari. Pemilihan umum presiden dan pemilihan umum legislatif dilaksanakan bersamaan pada hari itu. Kemarin sore surat undangan untuk datang ke TPS sudah diantar oleh Pak RT. 

Surat Suara

Jangan kaget, di tempat pemungutan suara, nantinya kita disodori lima surat suara untuk dicoblos :

  1. Surat suara warna abu-abu untuk memilih Presiden-wakil presiden
  2. Surat suara merah untuk memilih DPD-RI
  3. Surat suara hijau untuk memilih DPRD Kabupaten/Kota
  4. Surat suara biru untuk memilih DPRD Provinsi
  5. Surat suara warna kuning untuk memilih DPR-RI

Banyak kan? Lima surat suara. Pasti kertasnya cukup besar. Karena jumlah partai peserta pemilu terbilang banyak, ada belasan.

Jangan lupa dicek ya sebelum masuk ke bilik suara. Pastikan kertasnya tidak rusak apalagi sudah tercoblos seperti kejadian di Malaysia. Kita harus menghindari segala celah setiap oknum yang ingin mencurangi suara sah kita.

Euforia Pemilu Presiden, Pemilu Legislatif Kurang Dapat Perhatian

Perhatian terhadap pemilu presiden jangan ditanya. Nama kedua paslon tiap hari muncul di headline media. Pendukungnya asik ribut di kolom komentar. Begitu menarik capresnya saja debat di TV hanya beberapa jam. Pendukungnya bisa debat berbulan-bulan. Padahal ya tinggal terima saja tiap pilihan masing-masing. Toh tiap kita sudah punya argumen terhadap pilihan kita. Namun bukan demokrasi namanya kalau tidak boleh mengemukakan pendapat, termasuk di sosmed.

Tinggal dua hari lagi untuk menentukan pilihan. Pilihan presiden insyaAllah sudah mantap memilih siapa. Hanya saja mengenai pemilihan legislatif yang masih abu-abu. Banyak sekali nama-namanya. Spanduk-spanduk mereka beterbaran di jalan dan tiap hari mendapat tempat khusus di kolom surat kabar. Mau pilih yang mana? Masa harus mengecek satu per satu riwayat para caleg tersebut. Pernah korupsi tidak, pernah kena pidana tidak, punya prestasi apa saja.

Memang ada tantangan besar dalam pemilihan legislatif ini. Calegnya dari tiap partai jumlahnya banyak. Partainya pun begitu banyak. Demokratis sekali. Mau dibedakan berdasarkan apa? Kalau ideologi, sepertinya belum bisa sepenuhnya dilakukan. Sebab kebanyakan pakai ideologi bagi-bagi. Bisa saling berkoalisi pada pemilu sebuah daerah, namun menjadi oposisi di daerah lain atau bahkan di tingkat nasional. Tak ada kesetiaan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Terlepas dari segala kekurangan yang masih dan akan terus ada dalam sistem demokrasi ini. Perlu disadari bahwa kita diberi hak untuk memilih. Dan tidak akan saya sia-siakan hak memilih itu. Sebab pesta ini mengeluarkan triliunan rupiah. Jangan disia-siakan deh. Pak Presiden sudah teken Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2019, berbunyi bahwa 17 April 2019 sebagai hari libur nasional. Hari khusus untuk kita memilih di TPS.

Kembali lagi, mengenai pemilu legislatif tadi. Nampaknya sulit kalau harus membandingkan satu persatu calon. Membandingkan dua pasangan calon presiden saja butuh waktu lama. Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Cobalah lakukan riset kecil-kecilan mengenai nama-nama calon dari dapil kalian. Atau pilih yang sesuai dengan pikiran dan hati kalian.

Menuju 2024

Saya tidak terlalu antusias menyambut pemilu presiden dan pemilu legislatif tahun ini, terutama pemilu presiden tahun ini, yang merupakan re-match dari pemilu presiden 2014. Akan seberapa besar selisih suara mereka nanti? Sekaligus ingin tahu seberapa akurat prediksi lembaga-lembaga survei itu?

Pada pemilihan legislatif ada hal yang menarik. Mengenai treshold sebesar 4%. Partai apa saja yang akan lolos? Lalu bagaimanakah nasib partai-partai baru, yang salah satunya punya iklan yang begitu nyentrik, udah-udah?

Hasil pemilu 2019 ini juga bisa digunakan untuk menerka-nerka bursa capres dan cawapres pada tahun 2024 nanti. Waktunya golongan muda yang tampil dan memimpin Indonesia.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: