Review Laptop Zenbook UM431DA Setelah 9 Bulan Pemakaian

Sudah sekitar 9 bulan saya menggunakan laptop Zenbook seri UM431DA untuk kegiatan sehari-hari. Di artikel ini saya ingin membagikan pengalaman selama memakai laptop ini. Seri ini keluar dalam 2 varian, yaitu Ryzen 7 dan Ryzen 5. Yang akan saya review adalah seri Ryzen 5.

Saya akan sampaikan apa adanya, tidak ada yang dikurangi maupun dilebih-lebihkan hehe. Barang kali bisa menjadi acuan bagi Anda yang sedang mempertimbangkan laptop ini untuk dipinang.

Untuk Anda yang belum tahu mengenai perbedaan seri Zenbook dan Vivobook, bisa membaca artikel ini : Perbedaan Vivobook dan Zenbook.

Penggunaan Saya Sehari-hari

Membeli sesuai kebutuhan. Ini adalah prinsip yang saya anut. Saya menggunakan laptop ini untuk 4 hal utama :

  1. Mengetik artikel blog
  2. Mengerjakan tugas kuliah
  3. Mengolah data (terutama dengan MS Excel)
  4. Manage toko online

Itulah 4 hal yang biasa saya lakukan dengan laptop ini. Prosesor AMD Ryzen 5, RAM 8GB, dan SSD 512GB di laptop ini sudah cukup untuk menangani hal tersebut. Tidak pernah mengalami masalah. Untuk editing video atau edit gambar belum pernah saya coba.

Kecepatan booting laptopnya juga lumayan cepat, tidak perlu menunggu lama. Setelah tombol power dinyalakan, tunggu sebentar, langsung siap dipakai :

Nyaman Untuk Mengetik, Tapi Ada Kurangnya!

Bagaimana feel mengetik di keyboard Zenbook ini? Rasanya nyaman, dibanding laptop yang pernah saya gunakan sebelumnya. Much better experience! Hanya saja, jika Anda pengguna Macbook, saya akui masih lebih enak ngetik di Macbook.

Kenapa nyalanya harus warna kuning sih hahaha.

Satu hal yang mengganggu saya saat mengetik adalah warna huruf di keyboardnya. Saat backlit menyala, huruf akan menyala warna orange. Hal ini menyulitkan melihat huruf saat berada di ruangan yang terang atau silau. Solusi : matikan saja backlitnya saat keadaan silau.

Untuk situasi di malam hari, backlit lebih nyaman dinyalakan. Huruf di keyboard akan terlihat jelas.

ErgoLift dan Suara Karet Ketika Laptop Dibuka

Ergolift, bagian laptop sedikit terangkat. Nyaman untuk mengetik.

ErgoLift di laptop ini sangat membantu memberi rasa nyaman saat mengetik. Karena bagian belakang laptop terangkat sedikit.

Hanya saja masalah saya temui di bagian bawah layar laptop ini. Di sisi bawah ada karet pelapis. Nah saat laptop dibuka-tutup kadang bunyi gesekan karet. Agak risih dengarnya. But it’s okay, selama tidak mengganggu performa laptop. Tetap saja, ini masukan buat Asus, tolong tingkatkan build quality produk kalian.

Layar : Warna Ciamik, Tapi Kok Berkedip?

Layar Zenbook ini punya reproduksi warna yang bagus. Sudah 100% sRGB. Panelnya anti-glare pula, lebih tahan terhadap pantulan lampu atau cahaya matahari. Buat nonton video di YouTube atau streaming content dijamin bagus warnanya.

Cuma yang sangat saya sayangkan layarnya akan terlihat berkedip (gelap-terang) saat brightness ada di angka 10-20%. Ini karena nilai PWM (Pulse With Modulation) laptop ini hanya 44 Hz. Jadi orang yang matanya sensitif seperti saya bisa melihat kedipan di layar laptop ini.

Kedipan yang saya maksud ini sama seperti kedipan lampu neon. Sebenarnya lampu neon tidak menyala terang terus menerus lho. Gelap terang secara bergantian dengan cepat, contohnya ketika Anda lihat dari kamera. Akan muncul garis flicker pada kamera Anda. Sama seperti PWM pada laptop. Semakin tinggi nilai PWM semakin cepat kedipannya dan mata Anda tidak bisa merasakannya.

Solusi untuk PWM ini, naikkan kecerahan di angka 30% atau lebih. Kalau Anda tidak mau berkompromi dengan PWM ini lebih baik cari laptop lain yang nilai PWMnya lebih tinggi. Sehingga kedipannya tidak terasa. Untuk daftarnya bisa dilihat di : PWM Ranking.

Performa Baterai

Saya cukup jarang bepergian jauh membawa laptop ini. Paling hanya dibawa saat ke kampus. Kalau ke luar kota pasti bawa charger. Saat kepepet tidak bawa, rasanya agak was-was juga.

Daya tahan baterai laptop ini bagi casual user seperti saya terbilang cukup. Bisa bertahan angka 3-5 jam (terkoneksi wifi dan sesekali menggunakan earphone). Tidak irit-irit amat menurut saya. Hanya angka yang wajar untuk baterai kapasitas 47Wh.

Kalau mau lebih awet baterainya, pasang saja chargernya dan gunakan mode daya yang sudah disediakan Asus : 3 Mode Pengisian Baterai Laptop Asus.

Kesimpulan

Dulu saya beli laptop ini dengan harga sekitar 9 jutaan rupiah. Apa yang saya bayarkan terbalaskan dengan performa laptop yang bisa diandalkan. Desain yang cukup oke dan laptop yang ringan. Hanya saja untuk build quality tidak sebagus seri Zenbook di atasnya, namun lebih baik dari seri Vivobook yang umumnya masih menggunakan body plastik.

Untuk tahun 2021 saya tidak merekomendasikan laptop ini. Namun jika Anda dapat harga bekas yang menarik, atau sedang ada promo laptop ini bisa Anda pertimbangkan.

Sekarang sudah ada penerus Zenbook ini yaitu Zenbook 14 UM425IA dengan bezel layar yang lebih tipis dan desain lebih menarik.

Kembali lagi, semua pilihan kembali ke tangan Anda. Kuncinya hanya satu, sesuaikan kebutuhan dengan dana yang Anda miliki. Selamat hunting laptop!

Tinggalkan Balasan